Nina Nugroho Peragakan Batik Caruban di Front Row Paris 2022

Nina Nugroho Peragakan Batik Caruban di Front Row Paris 2022

JAKARTA, investor.id – Batik Cirebon bertema Caruban koleksi brand busana muslim Nina Nugroho akan digelar di peragaan busana Front Row Paris 2022 di Bateu Chansonnier Port Debilly dan La Galerie Bourbon, Paris, Prancis, pada 3-4 September 2022.

“Alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Indonesian Fashion Chamber untuk ikut Front Row Paris. Ada 16 desainer lain dengan DNA yang sudah terbentuk,” kata desainer Nina Septiana saat jumpa pers.

Nina mengungkapkan, koleksi Caruban yang merupakan asal kata dari Cirebon, ia bawa karena memiliki misi mulia. “Di tahun 2022, saya banyak kegiatan di Cirebon, di kampung halaman saya. Saya sowan ke Ratu Raja Arimbi Nurtina, perwakilan Keraton Kanoman, Cirebon, dan dari situ saya tergagas membawa batik Cirebon ke even di Paris ini untuk mengenalkan ada banyak sekali motif batik di Cirebon,” ungkap Nina.

Selama ini, kata Nina, masyarakat hanya tahu motif batik Cirebon hanyalah megamendung. Padahal ada banyak sekali motif batik Cirebon yang memiliki makna filosofi yang dalam.

“Saya senang sekali batik Cirebon dibawa ke even internasional. Batik Keraton Kanoman ada beberapa motif dengan pesan moral para leluhur dan saya berharap pesan moral ini bisa tersampaikan. Ada batik wayang, keris, kangkungan (yang Agung) yang filosofinya tak boleh lepas dari mengingat Yang Kuasa,” papar Ratu Raja Arimbi Nurtina, yang merupakan adik Sultan Kanoman XII, Pangeran Raja Muhammad Emiruddin.

Meski motif batik Cirebon penuh makna filosofi, terutama filosofi Islam, Nina yakin desain busananya tak akan menabrak filosofi tersebut. “Alhamdulillah saya sejak awal konsisten dengan modest fashion. Hijab adalah identitas brand saya. Batik Cirebon ini bukan sekadar batik, tapi ada pesan moral bahwa Cirebon sebagai pusat penyebaran agama Islam dan ini ada benang merah bahwa batik Cirebon adalah wastra peninggalan leluhur yang harus dijaga kelestariannya,” tegas Nina.

Inspirasi Istri Sunan Gunung Jati

Nina Nugroho membawakan 5  koleksi busana yang dipadankan dengan koleksi Batik Keraton Kanoman. Koleksi terdiri dari midi shirt, shirt, tunik, dan outer/cape yang dipadankan dengan pipe pants, cullote, dan skirt. Detil berupa kancing Swarovski dan diperkaya dengan interlining dari bahan satin yang nyaman dan lembut. Batik klasik Cirebon beragam motif dipadukan dengan bahan cotton bridal premium yang menambah kesan elegan namun ringan.

Koleksi pertama terdiri dari tunik 2 in 1 dengan detil obi perpaduan batik Cirebon berwarna marun dan hitam putih di bagian lengan. Batik berwarna marun motif Kereta Paksi Naga Liman, yang merupakan kendaraan Sultan Cirebon. Kereta ini memiliki senjata Trisula, yang merupakan simbol tiga kekuatan Sultan, yaitu kekuatan darat, laut, dan udara. Dipadukan dengan cullote motif Mega Mendung Rara Sumanding.

Rara Sumanding adalah julukan Puteri Ong Tien. Ia adalah salah satu istri Sunan Gunung Jati, yang merupakan putri kaisar China, yakni Kaisar Hong Gie. Detil selendang di bagian belakang, menambah kesan elegan dan klasik koleksi ini.  Warna marun terlihat kontras dengan batik warna hitam di bagian belakang tunik. Hijab bukan sekedar penutup kepala, tetapi menjadi penyempurna penampilan koleksi ini, dengan menggunakan material glitter.

Koleksi berikutnya perpaduan batik Wayang dengan batik motif Parang Panembahan Cirebon. Batik Wayang  terdiri dari midi shirt menggunakan Batik Wayang dan perpaduan bahan polos bridal cotton premium berwarna gold. Detil obi menambah kesan anggun dan disempurnakan dengan hijab terbuat dari bahan brukat. Penampilan koleksi ini makin elegan dengan ‘cape’ batik motif Parang Panembahan Cirebon. Motif ini di masa lalu hanya bisa dipakai oleh keluarga bangsawan atau kalangan ksatria saja. Motif jenis parang muncul di era Panembahan Ratu Cirebon I (1571 – 1649 M). Muncul juga di era Panembahan Senopati Mataram (1586 – 1601 M) dan Sultan Agung Mataram (1613 – 1645 M)

Koleksi ketiga terdiri dari long coat Batik Wayang, shirt, dan pipe pants. Batik Wayang dipadukan dengan bahan bridal cotton premium berwarna coklat tua. Shirt diperkaya dengan detil berupa obi dan hijab menggunakan bahan tile. Batik Wayang merupakan simbolisasi manusia, yang mengajarkan filosofi kerukunan dan hidup dengan damai.

Perpaduan Batik Patran Luwung dan Batik Wayang menjadi daya tarik koleksi selanjutnya. Terdiri dari shirt 2 in 1 dengan detil di bagian belakang, dikenakan bersama cullote. Batik Patran Luwung, bermotif keris. Nama Luwung merujuk pada Syeikh Luwung (Pangeran Raja Muhammad), yang merupakan cucu Sunan Gunung Jati yang merupakan ahli keris (Luwung). Motif ini merupakan motif klasik Cirebon.

Skirt dan tunik berbahan Batik Megamendung yang legendaris, menjadi koleksi penutup. Motif Megamendung kali ini adalah Megamendung Nyai Panata Gama. Nya Panata Gama adalah julukan untuk ibunda Sunan Gunung Jati, yakni Nya Mas Rarasantang atau dikenal juga sebagai Syarifah Mudaim. Saat itu Nyai Panata Gama adalah Guru Agung Pondok Pesantren Amparan Jati Cirebon. Julukan itu muncul karena kapasitas beliau yang mumpuni di bidang ilmu agama. Paduan skirt dan tunik Megamendung berwarna biru dihiasi  ‘cape’ Batik Wayang berwana coklat sogan. Dipermanis dengan hijab berbahan glitter berwarna silver.

 

Editor : Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)

Sumber : Investor Daily

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *