Mengenal Tipe Kepribadian Anak

Mengenal Tipe Kepribadian Anak

kompasiana.com – Salah satu tugas terberat orang tua, selain memastikan proses tumbuh kembang fisik anak berjalan baik, adalah membantu membentuk kepribadiannya. Namun semua itu tentu  tidak selalu berjalan mulus, karena tiap anak itu  unik.  Sehingga orangtua perlu memberi perlakuan ke masing-masing mereka secara berbeda.

Di usia nol hingga memasuki golden age, tantangan mendidiknya tidak seberat ketika sudah memasuki remaja. Begitu pula saat anak sudah menginjak usia dewasa awal hingga telah  dewasa sempurna.

Memasuki usia pra remaja-remaja mungkin orangtua akan mulai merasa kewalahan menghadapi prilaku anak. Bentuk-bentuk pemberontakan mulai tampak sehingga tak ayal membuat orangtua kesal bahkan bingung. Sebaliknya, anak  juga tak kalah mangkel karena mereka menilai orang tua tidak mau mengerti apa yang mereka mau.

Ummi K Irawan, S.Psi, Psikolog seorang Competency Development Partner dari Tempa Trainers Guild (TTG) pada acara  webinar series bertajuk ‘Personality Plus For Parenting’ yang diselenggarakan gerakan #akuberdaya, menjelaskan ada 4 tipe kepribadian yang dapat dijadikan sebagai panduan  pola asuh dan komunikasi dengan anak.

Gerakan #akuberdaya adalah sebuah gerakan yang  diinisiasi oleh desainer Nina Septiana dan secara rutin menyelenggarakan webinar dengan tujuan mendobrak mentalitas perempuan Indonesia agar terlejitkan keberdayaannya.

Keempat tipe ini dikutip Ummi dari buku berjudul  ‘Personality Plus’ karya Florence Littauer yang secara gamblang menjelaskan 4 tipe kepribadian manusia, yaitu:  koleris, sanguins, melankolis dan plegmatis.

Bahkan untuk mengenalinya, orangtua cukup mengamati anak dari cara berjalannya, berbicara, berpakaian hingga cara memilah-milih barang kesukaannya.

Dikatakan Ummi, perilaku atau kepribadian seseorang, ibarat mata uang, memiliki dua sisi, plus dan minusnya.

”Dari  tipe-tipe  kepribadian tersebut tidak ada yang lebih bagus atau lebih jelek. Semuanya memiliki sisi positif, dan sebagai orang tua kita perlu sabar saja ,” jelas Ummi.

Ummi mengurai kepribadian positif anak berdasarkan tipenya:

Sisi positif si koleris adalah orang-orang yang berambisi dan  teguh pendirian, berkemauan kuat dan tegas.

Hanya terkadang apabila orang tua yang  plegmatis atau melankolis akan merasa sedikit kewalahan.

“Karena kita akan merasa  anak kita ini kok susah diatur ya. Anaknya agresif  banget ya, sehingga susah diatur,” ungkap Ummi K Irawan.

Namun percayalah, masa-masa ini hanya sebentar, seiring bertambah usianya  anak akan semakin dewasa dan lebih mudah diarahkan.

“Kalau melihat anak dari sisi yang belum dewasa, ya rasanya putus asa banget. Tapi begitu muncul sisi positifnya,  kita akan melihat dia sebagai anak yang memiliki ambisi, keteguhan, kemauan kuat, tidak mudah menyerah dan tegas. Kalau ini bisa diarahkan, justru  bagus banget kan,” papar Ummi.

Sisi dewasa atau positif si sanguin adalah seorang yang sangat antusias, mudah bergaul dan persuasif ketika berbicara dengan orang lain.

“Tapi ketika  belum muncul, dia cenderung egois, suka bicara, tidak melihat orang lain, impulsive, cenderung bertindak dulu daripada berpikir. Makanya dia adalah seorang pendengar yang buruk,” urai Ummi.

Di usia yang belum dewasa, anak  plegmatis  mungkin terlihat sebagai orang yang lamban, tidak punya kemauan mencapai sesuatu, tidak suka perubahan dan sulit beradaptasi.

Namun, lanjut Ummi, si plegmatis  dewasa memiliki  kepribadian  yang konsisten dan sabar.

Jika dia seorang suami, dia tipe suami siaga. Dia adalah seorang pendengar yang baik.

Sedangkan melankolis kanak-kanak  terlihat sebagai anak yang pemilih, padahal sebetulnya dia tipe orang yang hati-hati dan tidak suka mencolok.

”Kita harus meihat secara proporsional  anak-anak kita, jangan hanya melihat sisi negatifnya saja, tetapi gali sisi positifnya,” ajak Ummi K Irawan.

Setiap anak memiliki tipe kepribadian yang berbeda
Lantas, bagaimana agar  ngobrol dengan anak   bisa mengasyikan dan  nyambung? Perlakukan anak secara proporsional dan tentunya sesuai tipe kepribadiannya.

“Untuk anak koleris yang selalu ingin jadi nomor satu, cobalah memberi mereka kepercayaan sesuai kemampuan anak. Jangan coba-coba untuk mematahkan,  nanti jiwa mau jadi nomor satunya terluka. Apresiasi semua pencapaiannya,” terang Ummi.

“Meski kita akan berpikir anak ini sangat ambisius ya. Tetap beri kepercayaan dan apresiasi. Oh kamu bagus, mama sangat senang karena kamu anak yang tidak gampang menyerah,” jelas  Ummi.

Anak tipe korelis  juga  selalu mau menentukan pilihannya sendiri. Beri dia keleluasaan untuk bertindak .

“Tapi sebelumnya buat kesepakatan  antara  orangtua dan anak. koridor-koridor apa saja yang boleh dia lakukan, mana yang tidak. Kepadanya  sampaikan segala sesuatu secara singkat aja, jangan berbelit-belit. Karena yang dipikirkan anak koleris adalah hasil, maka pertanyaan yang diajukan adalah apa hasilnya,” lanjutnya.

Kembali lagi ke si sanguin, dia adalah tipe yang gila pujian dari setiap pencapaiannya.

Sehingga pujian sangat penting bagi si sanguin, pujilah secara tulus dan sesering mungkin.

”Berbeda banget sama korelis kan. Anak sanguin lebih senang dipeluk dan diapresiasi, daripada dibelikan barang,” ujar Ummi.

Namun begitu, anak sanguin  mudah bertindak secara emosional dan impulsive, sehingga perlu dididik untuk mengontrol emosinya. Dia butuh diapresiasi dan diajari cara membuat keputusan yang logis,

“Sanguin ini juga heboh, tapi  cenderung kurang rapi, tak suka data dan sistematika kerja. Dia lebih suka bekerja bersama orang-orang ketimbang data. Sehingga kita tetap harus ajari mengatur kamar, mengatur cara kerjanya. Dari kegiatan bersama itu, dia akan paham bagaimana cara mengatur sesuatu agar lebih sistematis. Bersama anak sanguin,  beri kesempatan dia menyampaikan idenya. Dengarkan apa yang dia ingin ceritakan,” jelas Ummi.

Disamping itu,  anak plegmatis yang selalu terlihat manis, gampang diatur dan lebih suka menghindari resiko.

Namun apabila ini terus dilakukan, dia akan jadi orang dewasa yang kurang berani mengambil tindakan.

“Jadi apapun perubahan yang akan  terjadi pada dia, sebaiknya orangtua ajak berdiskusi. Karena dia nggak suka perubahan dan lebih suka mencari ketenangan dan kedamaian. Kita bantu dia beradaptasi dengan perubahan-perubahan tersebut,” ujarnya.

Namun disisi lain anak plegmatik  lebih banyak mendengar, maka dorong dia untuk  lebih banyak tampil. Salah satunya dengan mendorong dia aktif di organisasi. Disini anak akan  banyak berlatih berbicara, mengeluarkan  pendapat dan menyampaikan argumen-argumennya.

Sedangkan menghadapi anak melankolis yang suka berpikir, dan melihat segala hal secara logis, selalu ceritakan alasan, apa dan bagaimananya. Orang tua patut  memberi penjelasan yang masuk akal pada saat berdikskusi.

“Intinya jangan mendesak untuk segera memberi jawaban, agar dia nggak  merasa tertekan. Anaknya juga nggak suka asumsi, jadi kalau berbicara dengan dia harus realistis dan lebih sabar,” tutur Ummi.

Disinilah pentingnya mendampingi tumbuh kembang kepribadian anak sesuai tipe mereka. Karena di usia dewasa, kelak anak akan dihadapkan pada banyak penyesuaian-penyesuaian.

Kendati tipe  kepribadian bersifat melekat, tapi dalam  kondisi tertentu  juga harus punya kemampuan beradaptasi yang baik.

“Sebagai contoh, ketika orang plegmatis yang cenderung lamban dan pelan, tapi ketika dia adalah seorang pemimpin di perusahaan  harus mampu bersikap seperti orang koleris. Dia harus tampil  tegas dan tanpa tedeng aling-aling saat berhadapan dengan anak buah.  Kemampuan memodifikasi karakter ini sangat dibutuhkan,” pungkas Ummi.

Kreator: Dewi Syafrie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *