Masker Kain Akankah Jadi ‘A New Normal’?

Masker Kain Akankah Jadi ‘A New Normal’?

SEBELUM wabah Covid-19 merebak, bagi warga Jakarta mengenakan masker disaat berada di jalanan bukanlah hal yang aneh. Maklum tingkat polusi yang tinggi, menjadikan masker sebagai kebutuhan saat tengah berada di jalan untuk mencegah debu dan polutan terhirup dan mengganggu kesehatan. Namun bagi warga di wilayah lain, masker bukanlah kebutuhan. Seiring merebaknya wabah Covid-19 nampaknya masker sudah menjadi kebutuhan bagi  semua warga di seluruh dunia. Apakah pemakaian masker akan menjadi a new normal?

 

Kelangkaan masker bedah menjadikan masker kain sebagai alternatif dalam upaya melindungi diri dari SARS-CoV-2. Cukupkah melindungi diri dengan masker kain?

 

‘’Masker kain boleh digunakan oleh masyarakat yang sehat di tempat umum, tetapi tetap harus menjaga jarak aman 1-2 m,’’ ungkap dr Erlina Burhan Sp.P(K), MSc, PhD, dokter spesialis paru RSUP Persahabatan.

 

Menurut juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto, masker kain dapat melindungi dari droplet, baik droplet pemakai maupun droplet orang lain. Penggunaan masker kain tetap harus dibarengi dengan sering mencuci tangan dengan sabun, dan tidak berlama-lama memakainya.

 

‘’Untuk yang sehat, paling lama 3 jam sudah harus ganti yang baru, sementara untuk yang batuk harus lebih sering ganti lagi,’’ papar Yuri.

 

Seiring dengan meningkatnya pemakaian masker kain, sejumlah desainer pun mengeluarkan koleksi masker kain dengan menggunakan material yang beragam. Masker kain batik, tenun, motif lucu untuk anak-anak atau pun masker dengan lipatan dan kantung didalamnya. Di pasaran mulai bermunculan masker yang dibuat senada dengan busana yang dikenakan. Kreatifitas pun terus bermunculan, bahkan mulai pula dipasarkan masker dengan detil tertentu, seperti pita dan manik-manik.

 

Diluar aneka material dan model masker kain, sebenarnya masker kain yang seperti apa yang direkomendasikan oleh WHO (World Health Organization)?

 

WHO merekomendasikan penggunaan kain katun, bahan serbet dan kain yang biasa digunakan untuk sarung bantal. Ketiga jenis kain itu yang dipandang memiliki lebar pori yang paling tepat untuk melindungi pemakainya dari droplet, selain dari debu. Dengan masker kain minimal 2 lapis ditambah dengan satu lapis filter akan cukup efektif melindungi pemakainya dari tertular virus penyebab Covid-19 tersebut.

 

Dr Scot Segal, ahli anestesi di Wake Forest Baptist Health di Winston-Salem, Carolina Utara, menekankan pentingnya filter pada masker kain. Hal itu untuk meningkatkan kemampuan masker dalam menyaring partikel seukuran aerosol, termasuk SARS-CoV-2. Lapisan filter atau penyaring HEPA akan dapat menyaring partikel hingga 80 – 90 persen, hampir menyerupai masker N95. Bila tidak ada lapisan HEPA, menggunakan kain yang memiliki pori-pori rapat sudah bisa meningkatkan perlindungan.

 

Mengikuti himbauan pemerintah, agar masyarakat menggunakan masker kain saat berada di luar rumah pun disambut baik oleh Nina Nugroho dengan memproduksi masker kain untuk donasi.

 

Dengan bahan cotton combed 30 s dua lapis dengan lipatan di depan seperti masker medis, menjadikan masker Nina Nugroho nyaman digunakan. Dilengkapi tali panjang sehingga hijab friendly. Bahan katun dua lapis dengan memiliki bukaan di tengah sehingga bisa disisipkan tisu kering sebagai penyaring atau filter untuk perlindungan ekstra.

Sampai kapan masker kain ini harus digunakan? Laporan yang dirilis Prof Peng Zhi Yong dari Zhong Nan Hospital University Wuhan menyebutkan kekebalan tubuh pasien yang sembuh dari Covid-19 menjadi sangat buruk dan tidak kembali utuh, sehingga mudah kembali positif. Sejauh ini masih perlu diteliti, apakah kondisi itu masih dapat menularkan kepada orang lain.

‘’Dalam setahun ke depan perlu ditelusuri perubahan yang tejadi pada pasien yang sudah keluar dari RS, virus yang masih tersimpan pada tubuhnya apakah masih bisa menular, apakah masih berdampak pada orang di sekelilingnya,’’ tutur Prof Peng Zhi Yong.

Dalam hal ini peperangan melawan Covid-19 masih jauh dari kata akhir. Maka disarankan paling sedikit setahun ke depan, keluar rumah harus memakai masker, usahakan menghindar dari kerumunan atau berdiam di tempat umum.

Pemakaian masker nampaknya memang akan menjadi sebuah situasi normal baru hingga satu tahun ke depan. Dengan kreatifitas yang tanpa batas, bisa saja akan menjadi bagian dari fashion yang tak terpisahkan. Bagaimana dengan para professional? Masker dengan model klasik elegan sebagaimana yang dirilis Nina Nugroho tentu saja yang paling tepat dikenakan.(*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *