KGSB: Guru perlu bangun “personal branding” agar dikenal publik

KGSB: Guru perlu bangun “personal branding” agar dikenal publik

Jakarta (ANTARA) – Guru sebagai tenaga pendidik perlu membangun personal branding agar dikenal publik, kata pendiri Komunitas Guru Satkaara Berbagi (KGSB) Ruth Andriani,

“Cara bersikap dan kemampuan komunikasi menjadi hal yang penting. Melalui komunikasi yang baik akan terbentuk lingkungan yang nyaman dan hubungan erat dengan peserta didik sehingga membuat pembelajaran yang menyenangkan,” ujar Ruth Andriani dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin.

Misalnya, ingin dikenal sebagai guru yang ramah atau pintar, tegas, dan sebagainya. Reputasi inilah yang akan selalu diingat oleh anak didiknya.

Personal branding bagi seorang guru dimaknai sebagai sesuatu yang dibangun oleh seorang guru secara pribadi untuk menciptakan citra yang baik. Citra yang dibangun berguna untuk menciptakan ciri khas terkait kompetensi yang dimiliki oleh guru tersebut. Seorang guru yang profesional tentu perlu menunjukkan citra dirinya sebaik mungkin agar publik khususnya murid dapat mengenal gurunya melalui citra positif yang sudah dibangun.

Sebelumnya, KGSB mengadakan webinar “Membangun Personal Branding untuk Tenaga Pendidik” yang diikuti ratusan tenaga pendidik anggota KGSB.

Personal branding bagi seorang guru adalah proses sepanjang masa yang terus diupayakan sebagai bagian dari upaya pembelajar sepanjang hayat untuk dapat menerjemahkan dan mengimplementasikan secara nyata kebermaknaan belajar. Para guru perlu melakukan mengenali diri sendiri seperti kemampuan yang dimiliki, bagaimana cara bersikap dan berkomunikasi sebelum membangun personal branding.

Pendiri Rumah Guru BK Ana Susanti mengatakan tujuan personal branding terlihat menjadi lebih baik, citra yang baik, jika murid meraih prestasi. Prestasi seorang guru adalah mencetak murid-murid yang dapat mengadopsi dan memahami pelajaran yang disampaikan baik akademik maupun non-akademik.

“Terdapat beberapa manfaat personal branding bagi guru antara lain mengembangkan kepercayaan diri,membangun koneksi, membangun kredibilitas, keyakinan yang meningkat, memiliki authenticity, fokus mencapai tujuan dan sebagai kontrol diri,” kata Ana.

Perancang busana yang juga inisiator Gerakan #AkuBerdaya Nina Septiana dalam paparannya menyampaikan bahwa proses personal branding merupakan proses menuju keberdayaan diri. Bahwa seseorang mampu berdaya selama dia memiliki daya ungkit.

“Bagaimana caranya? Diawali dengan tentukan siapa diri kita, mengenai kelebihan dan kekuatan serta fokus mengembangkan skill dan kekuatan. Kemudian membangun kepercayaan orang lain, memiliki kepribadian dan konsisten,” kata Nina.

Selanjutnya, kata dia, perlu membangun relasi serta bijak menggunakan media sosial sebagai media untuk personal branding.

 

Editor by : Bambang Sutopo Hadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *