Cepat Tanggap, Info Akurat dan Disiplin Kunci Keberhasilan Taiwan Atasi Pandemik Covid-19

Cepat Tanggap, Info Akurat dan Disiplin Kunci Keberhasilan Taiwan Atasi Pandemik Covid-19

TAIWAN menjadi satu dari sedikit negara di dunia yang mampu segera pulih dari tekanan akibat pandemik Covid-19 yang melanda dunia sejak akhir Desember 2019 lalu. Penyakit yang diakibatkan oleh SARS-Cov-2 dan pertamakali ditemukan di Wuhan, Tiongkok ini mampu diatasi 6 bulan sejak kasus pertama ditemukan. Apa kunci sukses Taiwan?

Dalam Nina Nugroho Solution Live Instagram yang ditayangkan Sabtu, 12 September lalu, mbak Nina Septiana mengundang  Dewi Maryam, S.Kep, Ns, M.Kep sebagai nara sumber. Mbak Dewi adalah Kepala Perawat pada Instalasi Rawat Inap Bedah RSUD Dr Soetomo Surabaya. Saat ini tengah menempuh studi doktoralnya di Nursing Kaohsiung Medical University Taiwan.

Saat pemerintah Taiwan mengumumkan kasus pertama pada 21 Januari 2020, Dewi Maryam sedang kembali ke kampung halamannya di Surabaya, setelah satu tahun menempuh pendidikannya di Taiwan. Guru besar pembimbingnya segera menghubunginya dan memintanya untuk segera kembali ke Taiwan sebelum segala sesuatunya menjadi sulit.

‘’Waktu itu kakak saya melarang saya kembali ke Taiwan karena khawatir, tetapi alhamdulillah suami mendukung karena dia sangat paham bahwa pelayanan Kesehatan di Taiwan termasuk 6 besar terbaik di dunia. Saya pun berpacu dengan waktu segera kembali ke Taiwan dalam dua minggu berikutnya, menggunakan penerbangan langsung tanpa singgah,’’ ceritanya membuka obrolan santai sore hari itu.

Saat ini masa perkuliahan tengah memasuki masa libur musim panas, namun pemerintah Taiwan dan KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia) di Taipei melarang warga dan mahasiswa asal Indonesia kembali ke tanah air. Larangan itu mengingat kondisi Indonesia masih sangat buruk dalam penanganan Covid-19 ini. Apalagi pada 11 September lalu terdapat dua positif baru Covid-19 yang disinyalir berasal dari Indonesia.

‘’Dua orang ini adalah orang Taiwan yang bekerja di Indonesia selama beberapa bulan. Mereka kembali ke Taiwan dan saat di bandara di cek ternyata terinfeksi corona sehingga langsung masuk karantina. Itu kasus baru, setelah sejak Juni tidak ada kasus baru lagi,’’ tutur Dewi.

Dewi lalu menceritakan bagaimana pemerintah Taiwan begitu tanggap dalam mengatasi pandemic ini.

‘’Begitu kasus pertama ditemukan, pemerintah segera tanggap dengan memberikan informasi yang akurat mengenai bagaimana cara mencegah agar tidak tertular virus ini. Pemerintah Taiwan sudah memiliki pengalaman dengan virus SARS di tahun 2003 lalu, sehingga Langkah-langkah pencegahan sudah langsung dilakukan. Setiap hari bisa dua tiga kali informasi dari pemerintah diberikan kepada seluruh warga yang tinggal di negara itu dalam bentuk SMS. Dengan informasi yang akurat tersebut, masyarakat baik yang local maupun pendatang menjadi tenang dan tahu apa yang harus dilakukan,’’ terang Dewi meski awalnya mengakui sedikit merasa panik.

Pemerintah Taiwan kemudian membuat program menyediakan masker kepada seluruh masyarakat dengan system yang sangat rapi. Masyarakat diberikan jadwal kapan dapat membeli masker ke apotek yang telah ditunjuk setiap 10 hari sekali.

‘’Tidak ada antrian dalam pembelian masker, karena semua sudah diatur sangat rapi. Baik warga local maupun pendatang sudah diberi jadwa masing-masing kapan dan jam berapa bisa membeli masker,’’ tutur Dewi yang menunjukan kartu identitas sementara yang menjadi acuan pemerintah Taiwan memberikan jadwalnya.

Ia mengaku memang sempat panik, namun peran kampus tempatnya belajar sangat besar dalam menenangkan mahsiswanya.

‘’Kampus yang memberikan informasi setiap harinya mengenai pandemic ini. Dari sana mahasiswa merasa tenang,’’ katanya. Bukan hanya informasi yang diberikan, tetapi juga menyediakan kebutuhan mahasiswa selama pandemic berlangsung.

‘’Kalau panik ya sesaat itu saja, setelah itu bisa tenang karena ada banyak informasi dan pemerintah menyediakan banyak alkohol dan tempat cuci tangan di banyak sudut taman. Begitu pun kalau masuk gedung selalu dicek body thermal,’’ ungkapnya.

‘’Jadi mungkin itu bedanya ya, saat awal pandemic di Indonesia justru sulit mencari masker dan hand sanitizer, sementar pemerintah Taiwan menjamin ketersediaan masker dan hand sanitizer ini. Dalam hal ini antisipasi pemerintah Taiwan yang begitu sigap, semua stake holder langsung bergerak. Sistemnya juga sudah sangat bagus,’’ ungkapnya.

Selain system Kesehatan yang sudah siap, masyarakat Taiwan juga mematuhi instruksi pemerintah dan disiplin menerapkannya sehari-hari. Karakter masyarakat Taiwan yang patuh pada aturan, selalu menjaga kebersihan dan disiplin menjadi bagian penting dari keberhasilan Taiwan mengusir Covid-19. Masyarakat Taiwan juga memiliki kesadaran tinggi bahwa untuk mencegah penularan harus dengan menerapkan protocol Kesehatan dengan ketat. Fasilitas Kesehatan yang cukup juga sudah disediakan sejak awal. Meski saat itu kasus belum tinggi namun pemerintah Taiwan telah menyiapkan tempat untuk karantina. Pasien Covid-19 dipisahkan dari pasien umum. Menutup penerbangan ke dan dari negara yang sudah terinfeksi. Tindakan tegas kepada pelanggar, tidak hanya kepada individu tetapi juga kepada industri yang ketahuan menimbun masker.

‘’Pemerintah Taiwan tidak pernah menerapkan lockdown dan meminta masyarakat untuk tetap tinggal di rumah saja, tetapi menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Kegiatan perekonomian dan perkuliahan tetap berlangsung normal, namun dengan protokol kesehatan yang ketat. Tidak boleh berkerumun, menggunakan masker, dan menjaga jarak sudah diterapkan sejak awal Covid-19 ditemukan,’’ ungkap Dewi.

Banyaknya CCTV juga memudahkan pemerintah mengontrol warganya. Bila membuang sampah sembarangn maka dikenai denda hingga Rp 3 juta. Sementara bila tidak mengenakan masker dedenda Ro 4 juta. Bila ketahuan tidak mengenakan masker di angkutan umum, sopir tidak segan-segan menurunkan di tengah jalan.

Pemerintah juga membuat membuat aplikasi paspor sehat untuk mahasiwa. Di depan Gedung sebelum masuk gerbang, mahasiswa akan di cek suhu tubuhnya, hasilnya kemudian diinput ke paspor sehat yang ada di hp masing-masing. Setelah cek suhu, mahasiswa kemudian membasuh tangan dengan alkohol atau mencuci tangan dengan sabun. Bia itu semua sudah dilakukan, mereka baru bisa masuk ke kampus dan mengikuti perkuliahan masih dengan masker dan jarak yang diatur.

‘’Bila aturan jelas dan tegas, masyarakat akan mengikuti. Kalau tidak ya akan bingung sendiri. Saya juga berharap masyarakat Indonesia dapat meningkatkan jiwa caring each other. Bagaimana kalau keluarga kita yang terkena. Jadi saling menjaga supaya tidak saling menulari,’’ tutupnya.(*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *